Pulang ke Rahim Keadilan

By Admin


Peziarah Arbain/ Ilustrasi

nusakini.com, Debu gurun sewarna tembaga itu tidak sekadar mengapung di udara jelang petang, tetapi turun perlahan seolah ingin memeluk erat tumit-tumit yang retak dan menebal. Seorang pria yang menjadi satu noktah kecil dari jutaan manusia, terus membelah keheningan purba di rute kering dari Najaf menuju Karbala tanpa menggunakan alas kaki.

Tidak ada keluh yang terselip di garis wajahnya, kendati kerikil tajam dan hawa panas terus-menerus menagih ketahanan telapak kakinya yang telah lama mengeras. Bagi orang-orang kecil yang berjalan dalam diam ini, rute tandus sejauh 80 km tersebut sama sekali bukanlah semata-mata perpindahan raga.

Setiap peluh dan langkah di atas pasir adalah reka ulang dari sebuah luka lama, sebuah empati sunyi yang menembus lorong waktu untuk meraba kepedihan lebih dari seribu tahun silam. Saat kelelahan mulai menggigit tulang, pria jelata itu menepi sejenak di sebuah Mawkib, posko relawan sederhana yang berdiri tegak layaknya oase-oase kecil di tengah kerasnya alam gurun.

Seorang pemuda menyodorkan segelas teh pekat, menyadarkan kita pada ruang di mana makanan, tempat bernaung, dan kasih sayang diberikan sepenuhnya tanpa menghitung laba rugi. Di bawah tenda bersahaja itu kasta sosial luruh tak bersisa, menjelma menjadi panggung teater kemurahan hati yang ironisnya mekar subur dari rahim tragedi berdarah masa lalu.

Waktu di kalender lunar kini bergeser menunjuk tanggal dua puluh Safar, yakni momen Arbaen yang menjadi penanda usainya empat puluh hari masa nestapa umat manusia. Jutaan peziarah menembus debu seraya memanggul ingatan ke tahun 680 Masehi, saat Imam Husein merengkuh kesyahidan lantaran nuraninya menolak keras untuk menundukkan kepala pada tirani.

Darahnya yang tertumpah di tanah Karbala tidaklah menguap menjadi kesia-siaan, melainkan membeku menjadi monumen paling lantang tentang keberanian dan pembelaan mutlak terhadap martabat manusia. Hari ini, gelombang peziarah dari penjuru bumi yang jauh berbondong-bondong datang untuk merawat ingatan suci tersebut melalui ziarah batin sejauh ratusan kilometer.

Apabila kita menatap lebih jeli ke dalam rombongan itu, orang-orang dari bermacam keyakinan dan bahasa melangkah bersisian untuk mematahkan sekat-sekat kultural sembari berbagi sepotong roti. Di tengah dunia yang nyaris setiap hari dirobek oleh ambisi dan konflik, kesabaran orang-orang ini menjelma menjadi protes pasif yang membuktikan bahwa persaudaraan antikekerasan masih bernapas panjang.

Senja pada akhirnya turun merangkul gurun dalam kelembutan, tepat saat siluet menara kembar tempat suci itu perlahan mulai mengoyak cakrawala kota Karbala. Pria bertelanjang kaki tersebut memperlambat langkahnya, seketika menyadari bahwa debu dan kerikil di telapak kakinya sama sekali tak lagi terasa perih.

Rasa lelah yang sempat menggunung seolah menguap begitu saja, ditebas oleh pendar cahaya keemasan dari kubah suci yang menyambut kedatangannya dengan penuh ketenangan. Bersama lautan manusia yang pelan-pelan mengerucut masuk ke pelataran makam, pria jelata itu melangkah maju seraya menundukkan kepalanya yang tertutup debu sejarah.

Saat telapak tangannya yang gemetar menyentuh dinginnya jeruji makam, ia memejamkan mata dan justru menemukan keheningan sejati di tengah bising isak tangis jutaan manusia. Keheningan syahdu itu membisikkan sebuah pesan abadi, bahwa sekeras apa pun dunia mencoba membungkamnya, cinta dan keadilan akan selalu tahu arah jalan untuk pulang. (*)